Fr_Paulo_and_Fr_Felipe_Lizama_are_twin_brothers_and_Catholic_priests_in_Chile_Photo_courtesy_of_Fr_Lizama_CNA_8_19_13Dua bersaudara kembar di Chile mengatakan bahwa kegigihan ibu mereka untuk melindungi mereka dari aborsi, meskipun dokter telah menyarankan aborsi tersebut, membantu perkembangan panggilan imamat mereka.

“Bagaimana aku tidak dapat membela Allah dari kehidupan?” tutur Rm. Paulo Lizama. “Kejadian ini menguatkan panggilanku dan memberinya sebuah semangat yang spesifik, dan karenanya, aku dapat memberikan diriku secara eksistensial pada apa yang aku percaya.”

“Aku yakin akan apa yang aku percayai, akan siapa aku dan akan apa yang aku berkata, jelas adalah karena rahmat Allah,” ia menuturkan itu kepada Catholic News Agency (CNA)

Rm. Paulo dan saudara kembarnya yang identik, Rm. Felipe, lahir pada tahun 1984 di sebuah kota di Chile yang bernama Lagunillas de Casablanca.

Sebelum menyadari kehamilannya, ibu mereka, Rosa Silva, terpapar oleh sinar x-ray ketika menjalankan tugasnya sebagai paramedis. Akibatnya, setelah tahu bahwa ia mengandung, dokter yang memeriksanya melakukan pemeriksaan ultrasound dan memberitahukan kepadanya bahwa ada “sesuatu yang aneh” dalam gambar hasil pemeriksaan itu. “Bayi itu memiliki tiga lengan dan kakinya seperti terbelit. Dan ia memiliki dua kepala,” kata dokter itu kepadanya.

Meskipun aborsi untuk alasan “terapis” merupakan sesuatu yang legal di Chile kala itu dan para dokter memberitahukan bahwa nyawanya berada dalam bahwa, Rosa menentang gagasan mereka dan berkata bahwa ia akan menerima apapun yang Tuhan akan kirimkan baginya.

“Tuhan bekerja dan memberi kehamilan kembar. Aku tidak tahu apakah dokter itu salah atau bagaimana,” tutur Rm. Felipe. “Aku selalu merasakan kasih yang istimewa dan kelembutan dalam hati ibuku yang memberikan nyawanya bagiku, bagi kami,” Rm. Paulo menambahkan.

Kedua bersaudara, Felipe dan Paulo, lahir pada tanggal 10 September 1984. Felipe lahir terlebih dahulu, dan ketika plasenta tidak dapat lepas, dokter menyarakankan untuk mengkuret rahimnya. Meskipun begitu, Rosa menolak, ia mengatakan bahwa ia dapat merasakan bahwa bayi yang lain akan keluar. Paulo lahir 17 menit kemudian.

“Detil terakhir ini sangat berarti bagiku,” kata Rm. Paulo. “Dokter memasukkan alat untuk mengeluarkan plasenta karena tidak mau keluar. Ibuku tahu bahwa aku ada di sana. Aku terlambat, tapi aku akhirnya keluar.” Jika dokter mengkuret rahim ibunya, ia mungkin akan “terluka parah.”

Saudara kembar ini mengetahui bagaimana kejadian saat mereka dilahirkan ketika mereka berada dalam tahun keenam formasi mereka.

“Pastilah kebijaksanaan ibuku dan hatinya yang memampukan kami untuk mengetahui kejadian luar biasa tersebut pada waktunya,” kata Rm. Paul merefleksikan bahwa ia selalu berpikir bahwa panggilan imamatnya muncul saat ia remaja, ia kemudian menyadari bahwa Allah telah bekerja di dalam hidupnya sejak awal, terima kasih akan jawaban ‘YA’ ibunya.

Meski mereka tumbuh dalam keluarga Katolik, dua bersaudara Lizama menjauh dari iman dan berhenti menghadiri Misa. Meski begitu, perpisahan orang tua mereka membawa mereka pulang kembali ke dalam Gereja dan mereka menerima Sakramen Penguatan (Krisma). Pada saat itu, Rm. Paulo mengatakan, ia tidak begitu yakin akan imannya tetapi ia begitu tertarik akan Sakramen Mahakudus, lagu Gregorian, dan doa dalam keheningan yang hormat.

Rm. Felipe berkata bahwa ia dibawa kepada Allah melalui seorang imam, Rm. Reinaldo Osorio, yang kemudian menjadi pembimbing formasinya di seminari. “Allah telah memanggilku. Aku menyadarinya bahwa di dalam Allah dan dalam segala hal tentang Allah aku bahagia, tidak ada keraguan: Aku ingin menjadi seorang imam,” kenangnya.

Meski mereka dekat, kedua bersaudara ini tidak menceritakan panggilan itu satu sama lain. “Aku tidak tahu siapa yang terpanggil terlebih dahulu,” kata Rm. Paulo. “Aku berpikir bahwa Allah melakukan hal-hal dengan tepat untuk menjaga kebebasan tanggapan kita.”

Pada bulan Maret 2003, mereka berdua masuk seminari. Meski awalnya berat bagi keluarga untuk menerima keputusan mereka berdua, ibu mereka memberitahukan kepada mereka setelah tahun pertama formasi bahwa ia begitu damai, menyadari bahwa mereka juga bahagia akan panggilan mereka.

Dua bersaudara kembar ini ditahbiskan pada 28 April 2012 dan mempersembahkan Misa perdana mereka di Our Lady of Mercies di Lagunillas. Sekarang, setahun setelah tahbisan mereka, Rm. Felipe melayani di paroki St. Martinus dari Tours di Quillota, dan Rm. Paulo melayani di paroki Maria Assumpta di Achupallas. “Allah tidak sedang bermain-main dengan kita. Ia ingin agar kita bahagia, imamat adalah sebuah panggilan yang indah dan membuat kami benar-benar bahagia,” kata Rm. Felipe.

“Mengikuti Yesus tidaklah mudah, tapi indah,” Rm. Paulo menambahkan, “Yesus, Gereja, dan dunia membutuhkan kita,” jelasnya. “Tetapi mereka tidak membutuhkan sembarang orang muda, melainkan mereka membutuhkan orang-orang muda yang disemangati oleh kebenaran Allah, sehingga hidup mereka menyampaikan kehidupan, senyuman mereka menyampaikan pengharapan, wajah mereka menyampaikan iman dan tindakan mereka menyampaikan kasih.”

Sumber:

http://www.phatmass.com/phorum/topic/124846-curiosity-twin-brothers-and-sister-in-the-religius-life/

http://www.catholicnewsagency.com/news/saved-from-abortion-chilean-twin-brothers-are-now-priests/

Advertisements