Gagasan Leon Bloy ini disambut Paus Fransiskus yang menambahkan kepada umatnya, “Bila kita tidak mengakui Yesus Kristus, kita mengakui keduniawian iblis, yaitu keiblisan yang duniawi (the worldliness of the devil, a demonic worldliness).”

Perkawinan kita pahami sebagai persatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Dengan demikian perkawinan bertujuan untuk perkembangbiakan manusia dan memberi dukungan kepada suami istri untuk saling mencintai.

Tetapi pengertian itu makin hari makin bergeser pada kalangan yang makin luas. Makin hari makin banyak terjadi perkawinan di antara sesama jenis, dan makin banyak pula negara yang melegalkannya. Di Eropa makin banyak negara melegalkan perkawinan antar sesama jenis. Di Amerika Serikat, makin hari makin banyak Negara bagian melegalkan hubungan seperti ini. Sehingga tidak mengherankan, bila suatu hari nanti, ke-50 negara bagian Amerika Serikat akan melegalkannya. Argentina, tanah air Paus Fransiskus, telah melegalkannya.

Mereka yang membela jenis hubungan ini berusaha mendapat dukungan masyarakat dan politis. Mereka tidak peduli hasil penelitian para ilmuwan, bahwa laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (MSM = man having sex with man) jauh lebih besar risikonya untuk terkena kanker, penyakit menular seksual (PMS), maupun penyakit infeksi lain.

Sebuah studi berjudul ‘Cancer and men who have sex with men: a systematic review’, dimuat dalam The Lancet Desember 2012, mempelajari 47 laporan dari berbagai Negara tentang orientasi seksual dan kejadian kanker (ca). Studi ini menemukan bahwa sebagian besar laporan setuju bahwa MSM merupakan factor risiko yang signifikan terhadap ca. Risiko itu meliputi ca anus dan infeksi human papilloma virus (HPV) di anus (studi dari Perancis dan Brasilia).

Hepatitis B yang dapat berkembang menjadi kanker hati telah menurun 67% pada kurun waktu 1990 – 2002, tetapi proporsi MSM dengan hepatitis B virus naik 7-18% pada kurun waktu tersebut. Penyakit pernafasan seperti sinusitis, asma dan bronkhitis pada para homo dan biseksual adalah berturut-turut 1: 15, 1:37 dan 1: 19 dibandingkan dengan pasangan heteroselsual.

Bila kita tidak dapat mendefinisikan perkawinan sebagai terbuka untuk berketurunan, kita sama sekali tidak dapat mendefinisikannya. Tanpa definisi, tiada kemungkinan untuk keberhasilan mempertahankan integritas lembaga ini, sehingga dapat (dan telah) menjadi seperti apa yang diinginkan orang saat ini.

Pada perkembangan selanjutnya kamus bahasa Inggris mengenai perkawinan sesama jenis akan perlu penyesuaian pada suatu hari nanti. Laki-laki bisa menjadi “istri” dan wanita bisa menjadi “suami”. Istri mungkin berarti seorang laki-laki dan suami mungkin adalah seorang wanita berdasarkan undang-undang baru yang disusun oleh pemerintah. Perundangan lama yang memberi perlindungan kepada suami atau istri akan menjadi kuno dan definisi dalam kamus yang telah berusia berabad-abad tentang pasangan laki-laki dan perempuan perlu dihapus. ***els***

Sumber: Lifeissues 2 Newsletter #634 dan #635,
Lifeissues.net Newsletter 2

Advertisements