KOMITMEN MEMILIH KEHIDUPAN

Tahun ini FKPK memasuki usia ke-24, makin dewasa dan matang serta setia mempertahankan semangat pro-life di tengah masyarakat. Waktu terus bergulir, orang-orang yang berkecimpung dalam komunitas ini datang dan pergi. Banyak yang masih komit, banyak pula yang tidak lagi aktif. Entah karena usia, masalah kesehatan, kesibukan lain atau yang telah ‘berpulang’.   Dengan semangat yang ada, FKPK terus berjalan melayani orang-orang lemah yang membutuhkan pertolongan. Mereka adalah bayi-bayi yang terancam kehidupannya, perempuan yang mengalami dilema kehamilan, anak-anak dengan kebutuhan khusus, lansia yang tidak berdaya. FKPK hadir untuk mereka semua.

Ucapan syukur atas Hari Ulang Tahun ke-24 ini, FKPK memperingatinya secara sederhana dengan sebuah persembahan Misa Syukur. Sore ini, Senin 29 Agustus 2022, Misa Syukur secara virtual dipersembahkan oleh Sekretaris Komisi Keluarga KWI, Rm Yohanes Aristanto Heri Setiawan, MSF. Dalam pengantarnya Rm Aris mengajak untuk turut berdoa bagi mereka yang mengalami kemartiran karena kekerasan dan faktor lain,“HUT FKPK bertepatan dengan peringatan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, Santa Sabina, Martir. Santo Yohanes dihadapkan pada pilihan penguasa untuk memilih kematian. Kita memilih kehidupan”

Dalam homilinya Rm Aris menyampaikan bahwa “Kemartiran berbeda dengan dosa nomor 5 dalam perintah Allah. Kemartiran bukan menolak kehidupan tapi mencintai kehidupan. Bukan untuk mengorbankan orang lain, berkorban untuk mendapatkan hidup yg kekal. Inilah yang mencintai kehidupan. Banyak yang berjuang untuk kehidupan yang sekarang. Orang memperjuangkan hidup sedemikian rupa membuat kita sadar bahwa mencintai hidup bukan yang sekarang tapi Tuhan mengajak hidup dalam kelimpahan. Barangsipa yang kehilangan hidup karena Aku akan mendapat injil dan hidup. Komunitas kita akan mendapatkan hidup yang akan datang perjuangan kita untuk hidup yang kekal.”

“Demikian juga kita yg berkarya di FKPK tidak selesai ketika membantu orang, perjuangan kita untuk mencapai hidup yang kekal. Kita banyak bersentuhan dengan masalah moral diajak berpikir mau memilih seperti apa. Banyak dokter moral yang menghadapi discernment yang luar biasa. Kita diminta oleh Tuhan, selain membantu kita pikirkan kehidupan setelah ini. Kita bisa mendapatkan banyak hal dan arus masyarakat yang tidak pro-life dan berpengaruh pada pekerjaan kita tetapi kita tetap konsisten, baik bagi kehidupan orang lain tapi juga kehidupan kita. St Yohanes Pembaptis, katakan hidup di dunia dihadapkan pada pilihan untuk setia pada Tuhan atau pada dunia ini. Tuhan mengajak kita untuk menerapkan hal itu. Kita mengajak untuk melihat perspektif yang lain. Semoga itu yang kita pilih sebagai pilihan yang pertama.”

dr Angela Abidin, wakil ketua FKPK menyampaikan bahwa walau usia FKPK sudah 24 tahun, sudah matang tapi makin kecil karena ternyata masih banyak yang harus didampingi bukan hanya kasus KTD (Kehamilan Tak Diinginkan). Tapi juga bayi dengan disabilitas, mereka yang mau bunuh diri dan orang-orang yang di akhir kehidupannya perlu pendampingan. Untuk itu kita tidak bisa kerja sendiri dan perlu berjejaring, dan kita mampu karna Rahmat Tuhan. Yang kita layani bukan hanya hidup kita sendiri tapi hidup yang akan datang. Ada masanya kita dibuat dalam pilihan. Kita memilih kehidupan karena kehidupan adalah anugerah.”