Minggu, 12 Desember 2021 setelah sekian lama FKPK berhasil melaksanakan Lokakarya Nasional III. Lama sekali berselang sejak dilakukan lokakarya II Bulan Agustus 2009 lalu. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini tidak mengurangi spirit aktifis prolife di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi. Peserta terdiri dari utusan keuskupan dari 6 Regio di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, MAM/Manado, Amboina, Makasar dan Papua), jaringan kerja FKPK, pengurus dan simpatisan dari berbagai kalangan. Kurang lebih 75 orang tercatat mengikuti kegiatan ini. Selain berlangsung via zoom, dengan bantuan komsos KAJ dokumentasi kegiatan dapat diikuti melalu channel YouTube HIDUP TV.

Secara umum bahasan lokakarya sama dengan sebelumnya yakni seputar nilai-nilai kehidupan, komunikasi keluarga dan membangun jejaring. Bila Lokakarya II bertema ”Membangun Harmoni Keluarga Dalam Globalisasi” maka Tema Lokakarya kali ini “Merangkul Mereka Yang Tak Diharapkan Dengan Kasih dan Sukacita”. Fokus bahasan kali ini keprihatinan akan meningkatnya KTD (Kehamilan Yang Tak Diinginkan)di masa pandemi dan bahaya aborsi yang mengikutinya. Lokakarya dibagi menjadi 3 sesi yakni 2 Sesi Webinar dengan melibatkan 8 narasumber dan Sesi Pleno merumuskan rekomendasi serta rencana tindak lanjut. Ketua FKPK, dr Felix Gunawan dalam pengantarnya membuka acara menyampaikan bahwa tujuan acara ini dibuat adalah untuk menyampaikan pada masyarakat luas pentingnya mencegah aborsi dengan penanganan konseling bagi perempuan KTD.

Manusia adalah Anak Allah, Kitab Suci menomorsatukan kehidupan

Ketua Komisi Keluarga KWI sekaligus pelindung FKPK, Mgr Christophorus Tri Harsono dalam kesempatan sebagai Keynote Speech menyampaikan bahwa “Saat ini nilai norma terkikis oleh arus globalisasi yang membawa anak bangsa jatuh dalam indvidualisme, pakai aturan main sendiri dan melarang yang lain masuk ke dalamnya. Kepentingan diri lebih utama dan mengabaikan kepentingan bersama. Ditandai dengan maraknya narkoba, free seks, korupsi dsb. Meski dilakukan oleh individu namun ada efek bagi kehidupan sosial dan rusaknya moral bangsa yang anti kemanusiaan”. “Dasar di Kitab Suci luar biasa banyak menomorsatukan kehidupan. Tuhan memberikan kehidupan sebagai yang utama disebutkan di Kitab Yesaya, Ayub, Mazmur, Yeremia, Galatia dan injil”. “Kitab Kej 38:8-10 Gereja mengutuk semua bentuk aborsi langsung baik dengan medis dan terapetik . Aborsi adalah kejahatan yang sangat berat karena ditujukan pada anak di kandungan”. Menurutnya orang tua dalam keluarga hendaknya berperan sebagai teman diskusi bukan polisi. Dan jika kita hadapai kasus KTD, jangan menambah beban yang harus ditanggung, letakan masalah secara proporsional sebagai masalah yang bisa terjadi pada siapa saja. Jangan mencari yang benar dan salah hindari menghakimi”.

Rm dr Kusmaryanto, SCJ dalam Sesi Spiritualitas Awal Kehidupan menyampaikan bahwa “Manusia dihormati karena ia adalah Anak Allah. Walau manusia memiliki citra buruk tidak mengurangi kodratnya sebagai Anak Allah. Penelitian ilmiah menunjukan bahwa awal kehidupan sudah dimulai sejak terbentuk zigot. Fertilisasi bukan hanya awal kehidupan tetapi sudah individu”. “Ilmu pengetahuan dan agama saling mengamini”. “Dokumen Gereja yang menyebut tindakan aborsi antara lain, Kanon 1398 menyatakan bahwa yang melakukan aborsi terkena ekskomunikasi latae sententiae/ otomatis. Kejahatan aborsi dosanya sangat besar sekali”. Lebih lanjut Rm Kus menyampaikan bahwa, “Tugas kita adalah berjuang agar hukum dan institusi negara tidak melanggar hak hidup sejak masa konsepsi(pembuahan) hingga kematian alamiahnya. Pro life bukan hanya menentang aborsi tetapi membela hidup sejak dalam kandungan hingga kematian alamiah”.

Ibu Nanik Purwoko, pengurus Panti Asuhan Abhimata menyampaikan, “Faktor penyebab anak tidak dikehendaki adalah faktor ekonomi, hubungan tidak bertanggung jawab, perselingkuhan, keluarga broken home. Latar belakang anak-anak panti 99% adalah anak yang luka batin karena ditolak sejak dalam kandungan. Dampaknya punya perilaku yang menyimpang. Mereka butuh perhatian, kasih sayang dan pujian. Dampak negative teknologi ikut menyumbang tumbuh kembang anak yang menyimpang. Sr. Luciana, RGS memberikan pengalaman mendampingi perempuan dengan KTD dan shelter buat menampung mereka. Pelayanan tidak hanya untuk korban tetapi buat anak-anak yang dilahirkan. dr. Dyana Safitri, SpOG menambahkan bahwa “Remaja perlu didampingi karena masa ini banyak mengalami perubahan. Perlu memberi pengetahuan supaya anak ini bisa berdaya. Remaja merasa percaya diri bila didukung dan orang tau mendorong serta memberi kesempatan. Remaja yang diberi banyak pengetahuan akan membantu mengubah perilakunya”.

Pentingnya Edukasi dan Kerja Lintas Jaringan

Yang menarik dalam acara ini juga menghadirkan Ibu Margareth Simardjo, penyintas, single parent dengan 1 anak. Harapannya adalah supaya masyarakat mendapar edukasi supaya tidak mengalami hal seperti dirinya. Informasi tentang rumah singgah agar dapat diakses oleh perempuan KTD. Ibu Dra Agnes Dosorini dalam sesi Konseling dan Pendampingan KTD mengatakan bahwa kasus KTD dapat terjadi pada siapa saja baik perempuan yang sudah berkeluarga maupun perempuan yang belum menikah. Perempuan dengan KTD perlu penerimaan, pendampinga dan rujukan. Penyebab KTD a.l kurang pengetahuan, gagal KB, perkosaan, dll. RD Yustinus Ardianto menyampaikan pentingnya membangun komunikasi dalam keluarga. Sementara Ibu Noberta Yati Lantok menekankan pentingnya kerjasama antar lembaga dan jaringan akan sangat membantu upaya pencegahan perkawinan anak ini. “Pacaran perlu diarahkan kita perlu meningkatkan kapasitas para pendamping. Kolaborasi tingkat internal gereja dan lembaga pendidikan”.

Rekomendasi
Lokakarya menghasilkan beberapa rekomendasi yang harus ditindaklanjuti oleh FKPK antara lain membuat panduan untuk pendidikan seksualitas komprehensif buat remaja, sharing pengalaman antar lembaga, shelter buat perempuan dengan KTD dan penampungan bayi-bayi, meningkatkan kapasitas tenaga pendamping spt konselor. Lokakarya ditutup Pkl. 16.30 dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Edi Mulyono, SJ langsung dari Kapel Keuskupan Agung Jakarta. (lw)