Gugurkan atau pertahankan kehamilan ?situasi yang sangat sulit bahkan untuk kehamilan dalam perkawinan. Dan memotivasi ibu-ibu agar tidak melakukan aborsi sungguh tidak mudah. Gereja Katolik sangat melarang praktek aborsi.

Yang terakhir, seorang Ibu datang pada dokter minta kehamilannya yang masih 4 minggu digugurkan saja, karena si ibu merasa tidak akan sanggup menghidupi bayi ketiganya ini kelak, sejak suaminya meninggal karena covid 1 Minggu yang lalu !

Jadi dalam kedukaan ditinggal suaminya, dia minta kandungannya digugurkan begitu hasil pemeriksaan atas terlambat haidnya menyatakan bahwa dia positif hamil ( lagi ) sementara dia masih menyusui anak keduanya….

Ya Tuhan, betapa
‘Kemalangan’ yang bertubi-tubi menimpa.

Si dokter itu, istriku, tak henti meyakinkan si ibu yang didampingi ibunya untuk bertahan. Si ibu hamil itu menolak, menangis, meratap dan minta sungguh bayinya digugurkan, tapi si dokter tidak bisa setuju karena Sumpah Dokter melarangnya, dan RS Katolik jelas melarang keras tindakan abortif.

Ketegangan baru berhenti setelah si ibu tertegun oleh tawaran si dokter bahwa biaya selama kehamilan dan persalinan akan ditanggung dokter, bahkan bila anak itu tidak dikehendaki si ibu, ada keluarga lain yang akan mengadopsinya …..

“Iya Dok, saya akan mempertahankan bayi ini, dengan biaya yang ada pada kami. Tapi saya sungguh gelap akan masa depan keluarga kami sepeninggal suami. Saya cuma ibu rumahtangga yang tidak punya penghasilan …”

Jawab dr Ekarini : Ibu, kita semua gelap akan masa depan kita, tidak hanya ibu. Saya juga akan hidup dalam kegelapan tak tahu harus jalan kemana kalau tidak bersandar pada Tuhan.
Kami orang Kristen percaya sekali bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dalam kegelapan. Seperti ibu saja, tak mungkin membiarkan anak ibu berteriak-teriak ketakutan saat rumah mati lampu, apalagi Tuhan terhadap ciptaanNYA, termasuk pada yang diijinkannya ada dalam rahim ibu ini…
Tenanglah Bu, percayalah Tuhan sudah punya rencana keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya…

Si ibu tertunduk. Tangisnya berubah dari amarah dan menuntut, jadi tangis pilu seorang ibu yang menata hatinya demi masa depan kandungan dan keluarganya. Mungkin masih gelap, namun telah terbersit ada berkas cahaya yang dapat membantunya mengalahkan kegelapan……..

Pembatalan pengguguran telah terjadi. Sekurangnya saat itu. Semoga si ibu kian hari kian yakin akan penyelenggaraan Allah yang ajaib itu.

Dengan doa, kita dapat membantu si Ibu yang tidak kenal itu menemukan pengalaman rohani bersama Allah yang menyelamatkan.(*)