faithndepressionAkhir-akhir ini di media massa banyak berita tentang bunuh diri di Indonesia, yang tampaknya banyak dipicu oleh masalah himpitan ekonomi. Baik dilakukan oleh anak-anak yang tidak bisa menyediakan uang seperti diminta oleh gurunya, maupun oleh ibu yang membunuh anak-anaknya sebelum akhirnya ia membunuh dirinya sendiri. (Red) Di negara besar seperti Amerika Serikat dapat diperkirakan bahwa setiap tahun sekitar 15 juta warga akan sakit depresi.

Pada abad ke-empat dan ke-lima sesudah Yesus para ahli hidup rohani mengajar bahwa depresi itu adalah dosa, yaitu dosa KESEDIHAN, atau kemuraman. Dosa kesedihan itu tercatat sebagai salah satu di antara tujuh dosa yang mematikan iman. Pada abad ke-tujuhbelas KESEDIHAN dicabut dari daftar dosa yang mematikan, dan diganti dengan dosa KEMALASAN (Sloth). Siapa yang pernah mengalami sendiri, atau pernah mengobservasi orang yang sakit depresi tahu bahwa orang yang sedang menderita depresi sering merasa lemas dan malas.

Pada abad keduapuluh ilmu psikologi modern menolong kita untuk mengerti bahwa masalah-masalah kesedihan dan keputusasaan tadi bukan dosa melainkan penyakit yang akhirnya diberi nama depresi. Bunuh diri adalah muara dari depresi.

***

Ada beberapa jenis depresi dan respons terhadap obat berbeda-beda. Ada orang yang perlu ditolong oleh amper segala jenis obat yang ada, ada yang cukup dibantu oleh beberapa jenis saja. Ada juga yang mengalami efek samping pada beberapa jenis obat depresi sehingga pemakaiannya harus dihindari. Namun 15-20% penderita tidak tertolong oleh obat apa pun.

Orang yang sakit depresi ingin sembuh, dan ingin segera sembuh. “Saya tidak mau bahwa apa yang terjadi kepada Ibu dan Paman saya terjadi juga kepadaku. Mereka begitu diliputi kegelapan sehingga akhirnya mengira bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan membunuh diri.”

Oleh karena itu sambil tersungkur di depan kaki-Nya saya memohon kepada Tuhan supaya sembuh. Tetapi sering kali saya bangkit berdiri dengan tangan kosong, marah, kecewa dan kecil hati. Percaya akan sesuatu yang tak kelihatan, yang adalah definisi iman, sudah cukup sulit waktu syaraf-syaraf masih sehat dan berfungsi dengan baik. Tetapi saat keseimbangan kimia otak terganggu, penderita dikuasai oleh rasa cemas, dan percaya menjadi masalah. Pikiran dihantui oleh pertanyaan: “Di mana Allahmu?”

Hasil beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa doa dapat membantu mengurangi depresi. Meskipun demikian sering sulit bagi orang yang sedang mengalami kecemasan depresi untuk mengakses imannya, sekalipun ia percaya sejak kecil.

***

Richard Rice, 64 tahun, mengalami depresi berat sampai tiga kali selama tigapuluh tahun belakangan ini. Tiga dekade yang lalu ia jatuh sakit setelah pulang dari India ketika ia bekerja sebagai misionaris awam di kota Kalkuta.

“Ada benarnya apa yang dimaksud pepatah yang berbunyi: ‘depresi adalah rasa marah yang dialihkan kembali diri sendiri,’ kata Rice, yang sejak 35 tahun menjadi direktur perkembangan rohani di sebuah rumah retret di Wayzata, Minnesota. “Saya menjadi marah pada Allah karena Kalkuta. Pada suatu saat setelah pulang dari Kalkuta saya sedang bermain ski dan jatuh di lereng bukit. Saya berteriak: “Persetan! Saya tidak bisa pergi kepada siapa pun juga kecuali datang kepada-Mu. Meskipun saya tidak melihat satu tanda pun bahwa Engkau peduli , aku tetap percaya!” Ketika saya melompat ke dalam kegelapan seperti itu saya ditangkap oleh Allah, dan saya mengalami suatu Allah yang lebih dalam dibanding dengan Allah yang kukenal selama ini.”

Kathy Neal, penulis lepas (freelance) dari Little Rock, Arkansas, mempunyai pengalaman serupa. Pada umur 18 tahun ia menjadi katolik, tetapi sejak masa muda ia menderita depresi. Imannya tidak pernah lenyap tetapi ia merasa terpaksa menyesuaikan prakek iman dengan penyakitnya.

“Jangan salah tangkap!” katanya. “Saya mencinta Gereja Katolik dan segala ibadatnya. Tetapi karena depresi saya cenderung mengasingkan diri dari orang lain. Dalam pengasingan pribadi itu saya berusaha menjalin relasi dengan Tuhan secara lebih pribadi. Karena sering tidak mempunyai kekuatan untuk berangkat ke gereja saya telah minta supaya gambar Hati Kudus Yesus ditahtakan di rumah saya. Saya merasa bahwa Yesus di sini bersamaKu di rumah. Karena menjadi begitu dekat dengan Yesus maka sekarang lebih mudah bagi saya untuk bertahan.

Pada abad ketujuhbelas Santo Ignatius dari Loyola, pendiri Serikat Yesus (SJ) memperingatkan para pengikutnya tentang KESEDIHAN-KESEDIHAN (desolations). Saat-saat kesedihan dapat membawa seseorang kepada keadaan bahwa ia tidak lagi percaya, membiarkannya tanpa harapan dan cinta kasih. Ia menjadi lesu, tanpa gairah, tanpa semangat dan tidak bahagia, dan merasa jauh dari Tuhan Sang Pencipta.

“Bagi saya,” kata Neal, “depresi berarti saya kehilangan iman dan harapan. Tetapi bukan itu saja. Waktu saya dapresi saya tidak bisa ingat lagi bahwa iman dan harapan itu pernah ada. Apakah saya pernah mencintai seseorang? Apakah saya pernah mempunyai alasan untuk hidup? Teman-teman berusaha menghibur saya dengan cerita tentang Santo Yohanes dari Salib yang menulis tentang ‘Malam Gelap’ yang pernah dialaminya; atau Santa Theresa dari Lisieux yang berulang kali jatuh ke dalam depresi, tapi bagi saya, kesadaran bahwa ada santo dan santa yang pernah menjadi ‘gila’ tidak banyak menolong saya.”

KEMENANGAN-KEMENANGAN KECIL.

Tara Dix Osborne, yang baru berumur 30 tahun, sudah sering mengalami depresi. Bagi dia iman adalah keputusan yang harus diambil kembali setiap saat. Menurut pengarang yang tinggal di Chicago itu, “orang yang sakit depresi harus memilih dan memutuskan untuk percaya akan Allah, sekalipun keputusan itu perlu diulang setiap menit. Dengan demikian setiap menit menjadi kemenangan kecil atas keputusasaan.”

Pada tahun 2003 Paus Yohanes Paulus II alm, dalam amanatnya kepada peserta kongres pelayanan kesehatan mengenai depresi, menganjurkan para Pastor dan Umat untuk mengulurkan tangan kepada saudara-saudara seiman yang menderita depresi, serta menolong mereka memperoleh kembali rasa yakin akan kebaikan Allah. Menurut para ahli penyakit jiwa, tepatlah nasehat Sri Paus tersebut.

“Di sekitar orang-orang yang aktif di gereja, bisanya terdapat sekelompok teman di sekitar mereka sehingga mereka dapat menerima dukungan,” kata Lawrence Cronin – seorang psikiater Katolik dari Tucson, Arizona. “Sayangnya banyak penderita depresi tersisih dari pergaulan dan menyendiri, sehingga tidak lagi ada teman yang bisa menolong mereka. Sepertinya mereka tidak ditangkap oleh jaringan cinta kasih umat.”

“Tanpa bantuan teman-teman komunitas paroki saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan bertahan waktu saya jatuh ke dalam keputusasaan depresi itu. Lebih dari sekali seorang teman menyatakan kesediaannya menjadi “pendoa pengganti” atau pengganti saya sementara dalam hubungan saya dengan Allah selama iman saya turun menjadi lemah. Saya banyak dibantu oleh pembimbing rohani saya – seorang Pastor SJ yang juga ilmuwan – supaya saya tetap realistis. Karena waktu saya depresi, jarak antara sikap “Hidup itu baik” dan sikap “Seharusnya saya sudah mati!” tinggal satu atau dua langkah saja. Dikuasai oleh kesedihan saya melihat diri saya sebagai manusia yang tak berguna, malas, bodoh dan berdosa. Pikiran-pikiran seperti ini bergilir berputar di benak saya seperti seekor tikus pencobaan di dalam permainan kincir riam. Pastor Pembimbing selalu mengingatkan saya binatang itu tidak ada, tetapi Allah ada.

Mengalami Allah melalui iman orang lain sangat penting bagi orang yang sedang depresi. Teman-teman yang percaya bisa mempengaruhi proporsi iman-kepercayaan rendah / keputusasaan tinggi dan menolong mereka untuk yakin kembali bahwa keadaannya akan lebih baik.

“Saya percaya bahwa Allah mengutus orang-orang tertentu yang bersikap seperti Kristus kepada kita untuk menolong kita waktu kita sudah jatuh ke dalam keputusasaan yang mendalam.” Kata Peggy Schneider, seorang ibu rumah tangga dari Tucson yang sejak hampir sepuluh tahun menderita depresi. “Masih ada stigma tentang depresi dalam masyarakat kita. Jika kita mempunyai kenalan yang akan memberikan penghiburan– terutama orang yang pernah mengalami depresi sendiri – kita ditolong untuk bertahan pada hari-hari yang sulit. Tetapi bagi mereka yang karena depresi menjauhkan diri dari teman-teman pun iman tetap dapat menolong.

Salah satu studi terbaru tentang pengaruh iman dengan kepercayaan diterbitkan dalam majalah The American Journal of Psychiatry, bulan April 2005. Selama ating satu tahum Harold Koenig, peneliti dari Universitas Duke, meneliti pasien-pasien yang mengalami depresi setelah setelah menjalani rawat inap karena serangan jantung, stroke atau sakit berat yang lain. Ia menemukan bahwamakin kuat iman seorang pasien, makin cepat ia sembuh dan depresi. Sebagai tolok ukur Koenig memakai apa yang ia namakan “religiositas batin” (instrinsic religiosity) seseorang. Bagi dia instrinsic religiosity adalah komitmen agama yang bersumber dari dalam diri orangnya sendiri, yang berhubungan dengan, tetapi berbeda daripada kegiatan agama dan praktek doa atau meditasi.” Pokoknya religiositas batin seseorang membantu mereka keluar dari depresi. Ia menemukan bahwa untuk setiap angka naiknya ukuran instrinsic religiosity itu kecepatan penyembuhan pasien naik 70%.

Osborne mengatakan bahwa pengalaman pribadinya menguatkan hasil penelitian tersebut. “Saya dibesarkan dalam keluarga dengan kebiasaan berdoa bersama dan orang tua melatih dan mendorong anak-anak untuk berdoa secara pribadi. Hubungan dengan Allah yang telah berkembang di hati saya menolong saya untuk bertahan. Meskipun demikian terdapat saat-saat bahwa saya merasa ditinggalkan oleh Allah. Tetapi dalam hati saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa nanti saya akan kembali merasa dekat dengan-Nya. Dalam hati saya yakin bahwa akan demikian, saya merasa keyakinan itu tidak akan ada di hatiku, kalau saya tidak beriman.”

Ini tidak berarti bahwa iman adalah obat yang bisa menyembuhkan segala-galanya. Siapa saja yang pernah mencoba menyembuhkan dari depresi dengan bantuan Kitab Suci tahu bahwa memang demikian. Kadang-kadang efeknya justru tidak menguntungkan. “Ada orang beriman yang agak kaku, pikirannya terlalu terfokus kepada dirinya sendiri, mereka keras, juga terhadap dirinya sendiri, dan tidak mau mengampuni siapapun termasuk dirinya sendiri. Maka seperti siapa pun, mereka bisa menjadi penderita penyakit angan-angan (delusi), sehingga mulai memikirkan hal-hal seperti, misalnya, ‘Allah menghendaki saya mati.’ Itulah sebabnya iman yang dibutuhkan adalah iman yang bersifat positif dan optimis, bukan yang cenderung menghukum.”

Langkah maju yang sangat penting bagi orang yang sakit depresi adalah mengubah gambarannya akan Allah dari ‘Allah yang menghukum’ menjadi ‘Allah adalah Cinta Kasih.’ Saya berusaha sebelum akhirnya saya bisa menerima bahwa Allah tetap mencinta saya pun waktu saya marah. Sekarang memeriaki Allah menjadi hal yang biasa. Penderitaan depresi yang paling buruk yang pernah saya alami ating pada bulan April 2006 setelah saya pulang dari kunjungan Singapura. Saya belum mengerti sebabnya tetapi saya pulang dengan kenyakinan bahwa Allah tidak ada. Merasa dirinya tidak didengarkan oleh Allah sudah berat: tetapi berpikir bahwa Allah tidak ada lebih berat lagi.

Secepatnya saya minta janji konsultasi dengan psikiater saya. Di ruang konsultasinya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, saya menghabiskan satu dos tisu. Beliau kelihatan bingung. Pada konsultasi terakhir dua bulan sebelumnya saya kelihatan baik. “Apa yang terjadi?” ia bertanya. “Saya tidak tahu!” kujawab, “tetapi saya merasa bahwa saya tidak percaya kepada Allah lagi!”

Daniel memandang saya sebentar, kemudian ia berbuat sesuatu yang tidak biasa baginya : ia mengesampingkan tatacara sebagai dokter yang selalu mengikuti prosedur profesional dan membiarkan muncul bagian dirinya yang bersifat bersaudara, teman seiman keluar. “Tidak apa-apa” jawabnya, “Karena Allah tetap percaya akan kamu!”

***

Akhirnya penderita depresi diselamatkan, bukan dengan bantuan dokter atau bermacam-macam obat, meskipun keduanya sering perlu. Bukan juga oleh kepercayaan naif bahwa “iman sempurna menyembuhkan.” Perbedaan antara orang beriman yang berkembang kendatipun mengalami depresi dengan mereka yang tidak adalah suatu hal lain., yaitu bahwa mereka berusaha keras untuk melihat hidup mereka itu – pun hidup penuh penderitaan – sebagai karunia. Dengan sikap itu mereka makin dekat kepada Cinta Ilahi yang percaya akan kita semua.

Renée Schafer Horton., Kolumnis

SPIRITUALITY NCR 061215 SUPPL.

Advertisements