Sejauh ini kondom dimengerti sebagai alat pencegah kehamilan (kontrasepsi) dan sarana mencegah penyakit menular seksual (PMS), termasuk AIDS. Munculnya AIDS sebagai penyakit kelamin yang mematikan mengedepankan kondom sebagai alat pencegahan yang sangat efektif. Caribbean Family Planning Affiliation(CFPA) bahkan menyatakan kondom 100% melindungi terhadap kehamilan dan PMS. Sejauh manakah kebenarannya? Beberapa pihak pernah meyatakan keheranannya, penjualan kondom di tempat-tempat lampu merah meningkat pesat. Tetapi mengapa angka PMS tetap tinggi ? Apa yang sebenarnya terjadi ?

Terhadap HIV/AIDS

Workshop summary (rangkuman lokakarya) oleh empat badan pemerintahan di Amerika Serikat (AS) yang bertanggung jawab atas riset kondom, regulasi, rekomendasi pemakaiannya, dan program pencegahan HIV/AIDS dan PMS, yakni US Agency for International Development (USAID), Food and Drug Administration (FDA), Centers for Disease Control (CDC),National Institutes for Health (NIH) yang diterbitkan pada 20 Juli 2001 menyatakan bahwa kondom latex untuk pria mengurangi risiko terhadap HIV/AIDS sampai 85% dengan pemakaian yang benar (100%). Berarti masih tersisa risiko sebesar 15%. Pernyataan ini antara lain didasarkan pada penelitian longitudinal pada pasangan mantap (steady partners) yang pihak prianya seropositif HIV.

Terhadap PMS

Tidak jelas perlindungan yang diberikan oleh kondom, atau masih kurang data yang menunjukkan berkurangnya risiko. Penyakit-penyakit yang dipelajari di sini adalah kencing nanah atau gonore (disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae), infeksi klamidia /ciran keluar dari alat kelamin (clamydia trachomatis), trikhomoniasis /keputihan yang gatal (trichomonas vaginalis), herpes alat kelamin (herpes simplex virus atau HSV), kankroid /benjolan-benjolan di alat kelamin (haemophilus ducreyi) dan sifilis (treponema pallidum). Human papilloma virus (HPV –penyakitnya berbentuk jengger ayam di alat kelamin) lebih diperhatikan karena disimpulkan dengan jelas, bahwa kondom tidak mengurangi risiko HPV. HPV sangat penting karena dikaitkan dengan kanker leher rahim, yang di AS membunuh lebih banyak wanita daripada AIDS.

Sebagai kontrasepsi

Menurut Contraceptive Technology, keberhasilannya sebagai kontrasepsi juga 85% bila kondom dipakai dengan benar. Dalam arti pada 100 orang dalam waktu satu tahun dan mereka memakainya pada setiap kali sanggama, maka 15 orang pasangan wanitanya akan menjadi hamil

KEMUNGKINAN MENJADI HAMIL PADA WANITA DENGAN PASANGAN PRIA YANG SELALU MENGGUNAKAN KONDOM MENURUT JANGKA WAKTU

JANGKA WAKTU KEMUNGKINAN MENJADI HAMIL

1th 15%

2 th 28%

3 th 39 %

4 th 48%

5 th 56%

10 th 80 %

Catatan : Persentase ini adalah bila kondom dipakai 100 % atau selalu memakai kondom bila melakukan sanggama. Bila kurang dari 100%, kemungkinan terjadinya kehamilan akan lebih tinggi.

Apa penyebab kegagalan?

Meskipun kondom lolos dalam tes, bermacam situasi dapat mempengaruhinya. Pengaruh suhu udara, tertekan /tertindih ketika penyimpanan (misalnya dimasukkan dalam dompet) gesekan pada waktu dipakai, bisa berakibat bocor atau robeknya kondom atau melorot /terlepas ketika dipakai.

Bagaimana mengetes kondom ? Pengetesan dilakukan dengan tekanan udara (seperti balon yang ditiup) dan dengan air. Tekanan udara ini konstan pada setiap bagiannya, tidak seperti ketika dipakai untuk sanggama. Sehingga meskipun telah lolos tes, bisa saja kondom menjadi robek ketika dipakai. Cacat pada latex sering terjadi sebesar 5-70 mikron. Dalam suatu penelitian kondom sengaja dilubangi para pakar sebesar 10 mikron, kemudian dites dengan standar kekedapan air. Ternyata 75% lolos tes, sedangkan lubangnya 100x lebih besar dari diameter HIV. Pada tes yang lain, kondom dari berbagai merek dilubangi sebesar 1 mikron, yakni 10x diameter HIV. Ternyata 90% lolos tes kekedapan air. Jangan lupa, garis tengah sperma adalah sekitar 5 mikron, sedangkan HIV 0,1 mikron.

Kegagalan-kegagalan

Maka beberapa pengalaman berikut ini tidaklah mengherankan.

#di Botswana, prevalensi HIV pada wanita hamil di perkotaan meningkat dari 27% pada th. 1993 menjadi 45% pada 2001. Penjualan kondom meningkat 3x lipat. *

#di Kamerun, prevalensi HIV meningkat dari 3% menjadi 9% pada tahun yang sama. Penjualan kondom meningkat dari 6 juta menjadi 15 juta. *

#Kamboja meluncurkan ‘100% program kondom’ pada awal pemberantasan AIDS. Penjualan kondom meningkat dari 99.000 pada th.1994 menjadi 16 juta pada th. 2001. Infeksi HIV-nya meningkat 7x lebih cepat daripada penggunaan kondom. Dari 14 pada 1994 menjadi >16.000 pada th 2001. **

#di negara bagian Arkansas, AS, dari 1987-1992 ketika pemakaian kondom didesakkan dengan segala cara, termasuk di 24 SMU, oleh Direktur Kesehatan Arkansas, maka hasilnya sudah dapat diperkirakan. Kehamilan remaja meningkat 17%, sifilis pada remaja meningkat 130% dan HIV meningkat 150%.***

Keadaan ini tidaklah mengherankan karena pembagian kondom seringkali dimaknai sebagai bebas melakukan hubungan seks karena sudah terlindung (dari PMS maupun kehamilan). Yang sebenarnya terjadi, hubungan seks yang makin banyak dilakukan dengan sendirinya meningkatkan resiko . Maka penyebaran kondom bukanlah peningkatan kebijakan perilaku seks pada pelakunya, melainkan peningkatan perilaku berganti-ganti pasangan seksual dan penjualan kondom. Di sinilah letak pertentangan antara fakta ilmiah dan kepentingan ekonomi. Karena penjualan kondom tentu mendatangkan laba ekonomi pada pabriknya. Sedangkan perilaku santun dalam seks tidak memberikan keuntungan ekonomis apa pun.

Mencegah AIDS

Menurut Luc Montagnier, penemu HIV, cara-cara medis tidaklah cukup untuk mencegah AIDS. Khususnya bagi remaja, perlu pendidikan mengenai risiko berganti-ganti pasangan seksual dan perilaku seksual sesat lain. CDC dengan tegas menyatakan strategi yang benar-benar efektif adalah memantangkan hubungan seks dan melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang tidak terinfeksi serta saling setia satu sama lain. Atau dengan sederhana, berpantang dari hubungan seks di luar perkawinan dan setia kepada pasangan dalam perkawinan.

Dapatkah kondom membasmi AIDS? Bandingkanlah pengalaman Thailand dan Filipina.

THAILAND FILIPINA

1984 Kasus I Kasus I

1987 112 kasus 135 kasus

1991: perkiraan 1999 o. WHO 70.000 85.000

1999 (UNAID) 755.000 1.005

+ 65.000 + 225

2003 900.000 1.950

+ 125.000 260

Jumlah penduduk 62 juta 80 juta

+ = meninggal

Pelajaran yang dipetik

USAID menyimpulkan alasan mengapa di Filipina demikian rendah insidens HIV/AIDS-nya. Tidak lain karena dilaksanakannya dengan ketat edukasi dan dipegangnya dengan kuat nilai abstinensia (berpantang dari hubungan seks di luar perkawinan) dan baku setia (be faithful) dalam perkawinan. Hanya pada mereka yang sangat perlu, dapat dianjurkan menggunakan kondom.

Jangan dilupakan penularan HIV karena pemakaian jarum suntik dll yang tidak steril, baik oleh penyalahguna napza maupun di bidang kesehatan. Untuk ini diperlukan edukasi dan ketersediaan alat-alat.

Demikian antara lain masukan dari kongres Human Life International (HLI) Asia Pasifik ke-13 di Cebu, Filipina, 6-8 Oktober 2006 dalam topik Death by Latex yang dibawakan oleh Rm. Tom Euteneuer, Ketua HLI. Kongres dengan tema Silence is not an option: Be not afraid ini dihadiri oleh lebih dari 400 peserta dari 13 negara. Selain Filipina dan Amerika Serikat, hadir dari Jepang, Cina, Hongkong, Thailand, Myanmar, Vietnam, Sri Langka, India, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Perwakilan dari Indonesia adalah Sr. Theresio, OSF, Provinsial OSF, Jeanny Widodo dan Veronica Prayitno dari DPP Wanita Katolik RI, dr. Angela N. Abidin dan Ella Sutiyono dari FKPK. Kongres HLI Aspas ke-14 akan berlangsung di Thailand pada November 2007 ***els

Sumber : His Eminence Alfons Cardinal Lopez Trujillo & Brian Clowes, PhD. The case against condom : The scientific and moral basis for the teaching of the Catholic church on preventing the spread of disease. Human Life International, USA : 2006

*”Condom promotion for AIDS preventionin the developing world : is it working ?” studies in Family Planning, March, 2004

**”Epidemiological fact sheet on HIV/AIDS and STIs : Cambodia.” 2004 up date.

***Don Feder. “CDC opts to wage its own Troyan war.” The Boston Herald, August 19, 1993, Kentucky Citizen’s Digest, Jan/Feb1993 pages 4&5.

Advertisements