Menindaklanjuti Lokakarya Nasional III pada tahun 2021 yang lalu, di mana salah satu hasilnya adalah pembentukan kegiatan penanganan KTD (Kehamilan Tak Diinginkan) untuk mencegah aborsi di keuskupan-keuskupan lain, maka pada tahun 2025 ini diadakan Lokakarya Nasional IV FKPK dengan fokus utama pada pembentukan kegiatan tersebut di berbagai keuskupan.

Acara diadakan pada hari Sabtu-Minggu, 29-30 November 2025 dengan mengambil tema “Tuhan Telah Menenun Aku Dalam Rahim Ibuku, Jagalah Dan Lindungilah Aku”. Agar peserta yang tinggal jauh dari Jakarta dapat tetap mengikuti acara ini tanpa mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi, maka acara diadakan secara hybrid, yaitu secara tatap muka di Gedung KWI, Jl. Cut Meutia no 10, Jakarta Pusat, dan secara daring melalui Zoom.

Peserta terdiri dari perwakilan dari keuskupan-keuskupan seluruh Indonesia (khususnya Komisi Keluarga), lembaga dan individu yang tergabung dalam FKPK, perwakilan Rumah Sakit/Klinik Katolik seluruh Indonesia, pimpinan Shelter/rumah aman Katolik di seluruh Indonesia, pimpinan Panti Asuhan Katolik di seluruh Indonesia, serta para pegiat pembela dan pejuang kehidupan (Pro-Life). Pada hari pertama hadir secara onsite 49 orang dan online 130-an orang, dan pada hari kedua hadir secara onsite 38 orang dan onsite 50-an orang.


Hari pertama diawali dengan sambutan oleh dr. Felix Gunawan, Ketua FKPK, kemudian pengantar oleh Mgr. Yan Olla, MSF, Ketua Komisi Keluarga KWI, dan dilanjutkan oleh Romo FA Budiyono, MSF selaku Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ. Dr. Felix menyoroti banyaknya jumlah kasus aborsi di Indonesia, karena itu perlu dilakukan konseling serta penanganan bagi mereka yang mengalami Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) dan sebaiknya tim ini ada di seluruh Keuskupan di Indonesia. Sedangkan Mgr. Yan Olla, MSF menekankan bahwa Gereja Katolik meyakini kehidupan dimulai pada saat pembuahan dan berakhir pada saat kematian yang terjadi secara alami. Inspirasi dari Mazmur 139:13 yang menjadi tema Lokakarya ini sangat indah, bahwa Tuhan telah mengenal kita jauh sebelum kita lahir. Dan kita percaya Tuhan tetap menyertai kita selama perjalanan kehidupan kita. Pelayanan yang berbentuk jejaring akan jauh lebih banyak dapat memberikan bantuan, seperti yang selama ini dilaksanakan oleh FKPK. Romo Budiyono, MSF membahas tentang pandangan Gereja Katolik terhadap martabat manusia, keluhuran martabat manusia yang merupakan ciptaan Allah, ragam tantangan atau pelanggaran terhadap martabat manusia dan sikap Gereja terhadap tantangan tersebut.

Selanjutnya secara berturut-turut narasumber menyampaikan materinya, yaitu dr. Dyana Safitri Velies, Sp.OG, Subsp. Obginsos, M.Kes (Edukasi Seksualitas Komprehensif), dr. MAC Ekarini Aryasatiani, SpOG(K)-UroginRe, MPdKed (Layanan Kesehatan pada KTD), dr. Angela N. Abidin, SpMK(K) (Layanan Pendampingan dan Konseling pada KTD), Sr. Luciana, MPsi, RGS (Layanan Shelter untuk KTD), Ibu Dra Nanik Purwoko (Layanan Panti Asuhan bagi bayi dari kasus KTD). Seluruh pemberian materi ini dipandu oleh moderator dr. Priska Worotikan dengan MC ibu Anastasia Heni.

Setelah mendengar masukan dari para narasumber dan memahami layanan terhadap Kehamilan Tak Diinginkan, pada hari kedua peserta berdiskusi dengan pembagian kelompok sesuai dengan regio Gerejawi masing-masing, dan didampingi oleh fasilitator dari panitia. Diskusi kelompok juga dilakukan secara online dan onsite. Dalam diskusi peserta diminta memetakan, apakah ada kasus-kasus KTD di daerah masing-masing, kemudian menggali potensi yang ada di wilayah setempat untuk membentuk jejaring pelayanan terhadap KTD, serta rencana tindak lanjut setelah mengikuti lokakarya ini. Diskusi kelompok dipandu oleh ibu Agnes Dosorini dengan MC ibu Cicilia Vonny.

Acara Lokakarya Nasional IV FKPK ditutup dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Mgr. Yan Olla, MSF, dengan menghunjukkan persembahan berupa rangkuman Lokakarya Nasional IV FKPK agar Tuhan berkenan menyertai dan mendampingi seluruh pegiat pembela kehidupan dalam melaksanakan karya dan pelayanannya.

Setelah acara Lokakarya Nasional IV selesai, peserta diharapkan memahami kegiatan pelayanan terhadap Kehamilan Tak Diinginkan dan dapat membentuk kegiatan tersebut di Keuskupan atau daerah masing-masing. Untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi, peserta diundang untuk masuk dalam GWA Forum Prolife.